A. Nusantara Sebagai Pelabuan Penting pada Abad XIX
Semenjak zaman Indonesia klasik makassar sangat berperan penting dalam dunia perdagangan dan pelayaran. Perdagangan di Makassar di bagi menjadi dua periode. Periode pertama, awal pertumbuhan hingga 1667 dimana Makassar dibawah kekuasan kerajaan Gowa dan Tallo. Sejak abad ke-16 para pedagang muslim telah berdatangan ke kerajaan Gowa dan Tallo. Kerajan ini dikenal sebagai Bandar niaga yang baik teduh dan aman dari gelombang besar. Hal yang memperkuat kerajan ini sebagai Bandar niaga ialah dengan penghasil kekayaan alamnya berupa rempa-rempa dan beras ini lah yang membuat kerajaan ini tetap disinggahi para pedagang asing. Rempah-rempah pada waktu itu menjadi barang dagang utama dalam perdagangan maritim. Selain itu kebesan di laut menjadi pedoman politik kerajaan ini. Periode kedua, yakni di masa kekuasaan VOC antara tahun 1667-1799. Makassar pada masa ini fungsi utamanya sebagai pos pengamanan VOC untuk mencegah pedagang lain memasuki Maluku. Namun kejayaan makassar tidak selamanya berjaya.
Tampilkan postingan dengan label materi sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label materi sejarah. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 Maret 2013
Majapahit dan Demak Sebagai Negara Maritim
B. Kerajaan Majapahit di Masa Perdagangan Maritim
Sebelum adanya peran dari Mahapati Gadjha Mada yang menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara dibawah kekuasaan kerajaan Majapahit, kerajaan-kerajaan di Nusantara belum menyadari bahwa mereka merupakan satu Bangsa.
Menurut Anshoriy dan Arbaningsih, (2008:8-9) bahwa Mahapati Gadjha Mada berwawasan maritime (merkantilisme, navalisme, dan teritori). Apa yang dilakukan orang besar tersebut merupakan kebijakan maritim Kerajaan Majapahit yang benar dalam wilayah perairan Nusantara. Kerajaan Majapahit menjadi kerajaan maritim yang memiliki sejumlah negeri. Baik di Sumatra maupun Kalimantan. Wawasan maritim tentusaja memiliki implikasi pada strategi dan kebijakan kerajaan tersebut dalam mengelolah dan memanfaatkan laut, terutama dalam masalah trasportasi dan pertahanan. Sebagai pusat kerajaan, ia harus mampu mengkoordinasi negeri asalnya serta melindungi diri dari serangan musuh. Sistem perhubungan laut Majapahit konon diambil alih oleh Pemerintah Hindia-Belanda ketika berkuasa di wilayah Nusantara. Melihat kondisi “maritim” Majapahit serta potensi laut yang luar biasa, selain sebagai sarana perhubungan, Belanda (VOC) mengalihkan secara total orientasi masyarakat Nusantara menjadi masyarakat darat dan dipekerjakan sebagai tenaga paksa atau kerja rodi. Dengan demikian semangat kebaharian masyarakat Nusantara padam karena transformasi sosio-ekonomi dan budaya yang sengaja dilakukan Belanda demi kepentingan ekonominya. Dengan langka-langka yang dilakukan terhadap penuduk asli Nusantara, Pemerintah Hindia-Belanda menjalankan visi kemaritimannya, yaitu dengan menguasai wilayah perairan Nusantara di kawasan utara: Ternate dan Tidore; kawasan tengah: Makasar; kawasan selatan Batavia dan sepanjang pantai utara Pulau Jawa.
Sebelum adanya peran dari Mahapati Gadjha Mada yang menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara dibawah kekuasaan kerajaan Majapahit, kerajaan-kerajaan di Nusantara belum menyadari bahwa mereka merupakan satu Bangsa.
Menurut Anshoriy dan Arbaningsih, (2008:8-9) bahwa Mahapati Gadjha Mada berwawasan maritime (merkantilisme, navalisme, dan teritori). Apa yang dilakukan orang besar tersebut merupakan kebijakan maritim Kerajaan Majapahit yang benar dalam wilayah perairan Nusantara. Kerajaan Majapahit menjadi kerajaan maritim yang memiliki sejumlah negeri. Baik di Sumatra maupun Kalimantan. Wawasan maritim tentusaja memiliki implikasi pada strategi dan kebijakan kerajaan tersebut dalam mengelolah dan memanfaatkan laut, terutama dalam masalah trasportasi dan pertahanan. Sebagai pusat kerajaan, ia harus mampu mengkoordinasi negeri asalnya serta melindungi diri dari serangan musuh. Sistem perhubungan laut Majapahit konon diambil alih oleh Pemerintah Hindia-Belanda ketika berkuasa di wilayah Nusantara. Melihat kondisi “maritim” Majapahit serta potensi laut yang luar biasa, selain sebagai sarana perhubungan, Belanda (VOC) mengalihkan secara total orientasi masyarakat Nusantara menjadi masyarakat darat dan dipekerjakan sebagai tenaga paksa atau kerja rodi. Dengan demikian semangat kebaharian masyarakat Nusantara padam karena transformasi sosio-ekonomi dan budaya yang sengaja dilakukan Belanda demi kepentingan ekonominya. Dengan langka-langka yang dilakukan terhadap penuduk asli Nusantara, Pemerintah Hindia-Belanda menjalankan visi kemaritimannya, yaitu dengan menguasai wilayah perairan Nusantara di kawasan utara: Ternate dan Tidore; kawasan tengah: Makasar; kawasan selatan Batavia dan sepanjang pantai utara Pulau Jawa.
Kerajaan Sriwijaya Sebagai Negara Maritim
Sebagaimana agar mengetahui tentang kehidupan kerajaan maritim di nusantara maka tidak luput dari peranan kerajaan Sriwijaya di dalamnya. Dikarenakan kerajaan Sriwijaya yang letaknya sangat strategis yakni di tepi Selat Malaka yang menjadi persinggahan kapal asing dan menjadi jalur lalu lintas perdagangan India-Cina serta sering dikunjungi pedagang-pedagang dari Persia, Gujarad dan Arab. Untuk menjamin keamanan kawasanya, Sriwijaya membangun armada laut yang kuat sehingga kapal-kapal yang singgah merasa aman dari gangguan para perompak. Pengutan armada laut awalnya hanya ditujukan untuk melindungi para pedagang. Namun hal semacam inilah yang membuat Sriwijaya berkembang menjadi sebuah kerajaan yang sangat memperhatikan kelautan dan bahari sehingga menjadi negara maritime yang kuat.
Cita-cita besar penggagas maritim untuk menata negara dan bangsanya, sungguh amat relevan dengan kenyataan historis kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan nasional pertama di Nusantara. Dalam panggung kawasan Asia Tenggara, kerajaan Sriwijaya tampil sebagai kerajaan yang besar, makmur, bermartabat dan terhormat (Anshoriy dan Arbaningsih. 2008:50). Sebagai kerajan maritim Sriwijaya juga mempunyai hubungan antar kerajan sebagaiman hubungan antara kerajaan Sriwijaya denga kerajaan Mataram dimasa pemerintahan Dinasti Syailendra dan Sanjaya.
Cita-cita besar penggagas maritim untuk menata negara dan bangsanya, sungguh amat relevan dengan kenyataan historis kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan nasional pertama di Nusantara. Dalam panggung kawasan Asia Tenggara, kerajaan Sriwijaya tampil sebagai kerajaan yang besar, makmur, bermartabat dan terhormat (Anshoriy dan Arbaningsih. 2008:50). Sebagai kerajan maritim Sriwijaya juga mempunyai hubungan antar kerajan sebagaiman hubungan antara kerajaan Sriwijaya denga kerajaan Mataram dimasa pemerintahan Dinasti Syailendra dan Sanjaya.
Sejarah Perkembangan Teknologi Maritim Pada Masa Prasejarah
Dalam dunia anthropologi dan prasejarah, tentunya kita mengenal sebuah teori dari Brandes yang tergabung dalam Brandes 10 points. 10 poin yang menjelaskan tentang beberapa kebudayaan asli yang dimiliki oleh orang-orang prasejarah. Poin-poin tersebut adalah:
1.bercocok tanam padi/bersawah
2.mengenal permainan wayang
3.mengenal seni gamelan
4.pandai membatik
5.mengenal sistem macapat
6.mengenal alat tukar
7.membuat alat-alat dari logam
8.mengenal sistem pelayaran
9.mengenal ilmu astronomi
10.susunan masyarakat yang teratur
1.bercocok tanam padi/bersawah
2.mengenal permainan wayang
3.mengenal seni gamelan
4.pandai membatik
5.mengenal sistem macapat
6.mengenal alat tukar
7.membuat alat-alat dari logam
8.mengenal sistem pelayaran
9.mengenal ilmu astronomi
10.susunan masyarakat yang teratur
Jumat, 04 Mei 2012
Lokasi Penemuan Artefak Mesolitikum
Manusia pada masa mesolitikum sudah mulai hidup secara semi sedenter. Bekas-bekas tempat tinggal mereka ditemukan di pinggir pantai (kjokkenmoddinger) dan di dalam gua-gua (abris sous roche). Terutama disitulah didapatkan banyak bekas-bekas kebudayaannya, di samping penemuan-penemuan lepas lainnya diberbagai tempat.
Kjokkenmoddinger
Suatu corak istimewa dari mesolitikum ialah adanya peninggalan-peninggalan yang disebut dengan Kjokkenmoddinger. Kjokkenmoddinger berasal dari istilah bahasa Denmark (kjokken = dapur, modding = sampah, jadi arti sebetulnya : sampah-sampah dapur). Didapatkannya di sepanjang pantai Sumatra Timur Laut. Bekas-bekas itu menunjukkan telah adanya penduduk pantai yang tinggal dalam rumah-rumah bertonggak. Hidupnya terutama dari siput dan kerang. Siput-siput itu dipatahkan ujungnya, kemudian dihisap isinya dari bagian kepalanya. Kulit-kulit siput dan kerang yang dibuang itu selama waktu yang bertahun-tahun, mungkin ratusan atau ribuan tahun, akhirnya menjadi bukit kerang yang beberapa meter tinggi. Bukit inilah yang dinamakan kjokkenmoddinger.
Waktu bukit-bukit itu pertama kali ditemukan, para ahli geologi mengira bahwa itu adalah suatu lapisan bumi yang sangat istimewa. Tetapi kemudian dapat ditunjukkan bahwa bukit-bukit itu terjadi oleh tangan manusia (meskipun tanpa disengaja). Dari dalam bukit-bukit kerang itu banyak didapatkan kapak-kapak genggam yang ternyata berbeda dari chopper (kapak genggam paleolitikum). Kapak genggam mesolitikum itu dinamakan pebble atau juga menurut tempat penemuannya, kapak Sumatra.
Suatu macam kapak lagi yang sangat aneh dan hanya terdapat di jaman mesolitikum, ialah yang dinamakan hache courle (kapak pendek). Bentuknya kira-kira setengah lingkaran, dan seperti kapak genggam juga dibuatnya dengan memukuli dan memecahkan batu, dan tanpa diasah. Tajamnya terdapat pada sisi yang lengkung. Kecuali kapak-kapak itu dari bukit kerang ditemukan pulang berbagai pipisan (batu-batu penggiling beserta landasannya).
Abris Sous Roche
Tempat penemuan kedua dari kebudayaan mesolitikum adalah abris sous roche, ialah gua yang dipakai sebagai tempat tinggal. Gua-gua itu sebenarnya lebih menyerupai ceruk-ceruk di dalam batu karang yang cukup untuk memberi perlindungan terhadap hujan dan panas. Di dalam dasar gua-gua itu didapatkan banyak peninggalan kebudayaan, dari jenis paleolitikum sampai permulaan neolitikum, tetapi sebagian besar dari jaman mesolitikum.Penyelidikan pertama terhadap abris sous roche dilakukan oleh Van Stein Callenfels di Gua Lawa dekat Sampung (Ponorogo, Madiun), dari tahun 1928 sampai 1931. Alat-alat yang ditemukan banyak sekali macamnya: alat-alat batu, seperti ujung panah dan flakes, batu-batu penggilingan, kapak-kapak yang sudah diasah (neolitikum), alat-alat dari tulang dan tanduk rusa, dan jaga alat-alat dari perunggu dan besi. Jadi rupanya ceruk itu lama sekali menjadi tempat tinggal manusia. Bagian terbesar dari alat-alat yang di temukan itu terdiri dari alat-alat tulang, sehingga timbul istilah Sampung bone culture.
Kjokkenmoddinger
Suatu corak istimewa dari mesolitikum ialah adanya peninggalan-peninggalan yang disebut dengan Kjokkenmoddinger. Kjokkenmoddinger berasal dari istilah bahasa Denmark (kjokken = dapur, modding = sampah, jadi arti sebetulnya : sampah-sampah dapur). Didapatkannya di sepanjang pantai Sumatra Timur Laut. Bekas-bekas itu menunjukkan telah adanya penduduk pantai yang tinggal dalam rumah-rumah bertonggak. Hidupnya terutama dari siput dan kerang. Siput-siput itu dipatahkan ujungnya, kemudian dihisap isinya dari bagian kepalanya. Kulit-kulit siput dan kerang yang dibuang itu selama waktu yang bertahun-tahun, mungkin ratusan atau ribuan tahun, akhirnya menjadi bukit kerang yang beberapa meter tinggi. Bukit inilah yang dinamakan kjokkenmoddinger.
Waktu bukit-bukit itu pertama kali ditemukan, para ahli geologi mengira bahwa itu adalah suatu lapisan bumi yang sangat istimewa. Tetapi kemudian dapat ditunjukkan bahwa bukit-bukit itu terjadi oleh tangan manusia (meskipun tanpa disengaja). Dari dalam bukit-bukit kerang itu banyak didapatkan kapak-kapak genggam yang ternyata berbeda dari chopper (kapak genggam paleolitikum). Kapak genggam mesolitikum itu dinamakan pebble atau juga menurut tempat penemuannya, kapak Sumatra.
Suatu macam kapak lagi yang sangat aneh dan hanya terdapat di jaman mesolitikum, ialah yang dinamakan hache courle (kapak pendek). Bentuknya kira-kira setengah lingkaran, dan seperti kapak genggam juga dibuatnya dengan memukuli dan memecahkan batu, dan tanpa diasah. Tajamnya terdapat pada sisi yang lengkung. Kecuali kapak-kapak itu dari bukit kerang ditemukan pulang berbagai pipisan (batu-batu penggiling beserta landasannya).
Abris Sous Roche
Tempat penemuan kedua dari kebudayaan mesolitikum adalah abris sous roche, ialah gua yang dipakai sebagai tempat tinggal. Gua-gua itu sebenarnya lebih menyerupai ceruk-ceruk di dalam batu karang yang cukup untuk memberi perlindungan terhadap hujan dan panas. Di dalam dasar gua-gua itu didapatkan banyak peninggalan kebudayaan, dari jenis paleolitikum sampai permulaan neolitikum, tetapi sebagian besar dari jaman mesolitikum.Penyelidikan pertama terhadap abris sous roche dilakukan oleh Van Stein Callenfels di Gua Lawa dekat Sampung (Ponorogo, Madiun), dari tahun 1928 sampai 1931. Alat-alat yang ditemukan banyak sekali macamnya: alat-alat batu, seperti ujung panah dan flakes, batu-batu penggilingan, kapak-kapak yang sudah diasah (neolitikum), alat-alat dari tulang dan tanduk rusa, dan jaga alat-alat dari perunggu dan besi. Jadi rupanya ceruk itu lama sekali menjadi tempat tinggal manusia. Bagian terbesar dari alat-alat yang di temukan itu terdiri dari alat-alat tulang, sehingga timbul istilah Sampung bone culture.
Alat-alat yang Digunakan Pada Masa Mesolitikum
Alat Serpih Bilah
Alat serpih-bilah atau flakes adalah alat yang terbuat dari batu dan berbentuk kecil-kecil. Teknik pembuatan alat-alatnya menunjukkan bahwa masih melanjutkan cara-cara pembuatan alat pada masa sebelumnya. Namun pada masa ini, pembuatan alat-alat serpih-bilah jika dilihat dari bentuknya menunjukkan cara pembuatan yang lebih maju. Hal ini dikarenakan bentuk alat serpih bilah yang semakin beragam coraknya dan fungsinya. Kadang –kadang bentuknya kecil dan melalui teknik pemangkasan yang rumit, seperti alat-alat mikrolit yang memiliki bentuk khas geometric (Soejono, 1984:139).
Pengerjaannya ada yang sudah mengalami pemangkasan sekunder. Pemangkasan sekunder adalah pengerjaan serpih setelah dilepaskan dari batu intinya. Biasanya teknik ini lebih menitik beratkan pada pemunculan bentuk alatnya. Bahan batu yang digunakan untuk membuat alat ini adalah kalsedon, batu gamping, andesit, dan sebagainya. Tradisi serpih-bilah ini terutama berlangsung di kehidupan gua yang ada di Sulawesi Tenggara dan pulau-pulau Nusa Tenggara Timur. Beberapa unsur alat serpih-bilah ada yang dikembangkan lebih lanjut pada tingkat kemudian yang lebih modern lagi. Tradisi serpih-bilah di masa yang akan datang berbentuk mata panah bersayap atau bergerigi dan serpih-bilah yang khusus dibuat dari batu obsidian.
Tradisi serpih-bilah berkembang di beberapa daerah di Asia Tenggara. Di Indonesia tradisi ini sebagian besar ditemukan di Sulawesi Selatan (Heekeren, 1972:106-125), yang sebagian pada masa tidak berselang lama didiami oleh suku Toala. Penyelidikan untuk alat serpih-bilah ini berhasil dibuka jalannya oleh dua peneliti dari Swiss, Fritz dan Paul Sarasin.
Alat Tulang
Alat tulang di daerah Asia Tenggara banyak ditemukan di Tonkin. Namun pada penemuannya banyak bercampur dengan kapak genggam Sumatera yang agak kasar. Alat-alat tulang juga dapat ditemukan juga di gua-gua yang terdapat di daerah Hoabinh. Sayangnya jika di Hoabinh, maka populasi alat-alat tulang ini masih lebih sedikit daripada kapak genggam Sumatera.
Selain itu, alat-alat tulang juga terdapat di bukit kerang di Da But, Anam Utara. Alat-alat di daerah ini menunjukkan persamaan dengan alat-alat tulang yang ditemukan di Sampung, Ponorogo dan bukan merupakan bagian dari alat-alat yang ditemukan di Tonkin. Penemuannya pun masih disertai dengan penemuan kapak genggam Sumatera.
Dari penemuan di atas, Van Stein Callenfels berpendapat bahwa tradisi alat-alat tulang yang berasal dari Vietnam Selatan dan Annam mendesak pemakaian alat-alat yang terbuat dari batu (Heekeren, 1772:125-126). Pada akhirnya, tradisi alat-alat tulang tersebut akan mencapai daerah Jawa Timur dan berkembang lebih lanjut di gua-gua yang ada. Pembuatannya dengan cara pembelahan tulang sesuai dengan ukuran alat yang diinginkan, kemudian dikeraskan dengan api dan digosok-gosok sehingga menghasilkan alat yang keras dan tajam.
Alat serpih-bilah atau flakes adalah alat yang terbuat dari batu dan berbentuk kecil-kecil. Teknik pembuatan alat-alatnya menunjukkan bahwa masih melanjutkan cara-cara pembuatan alat pada masa sebelumnya. Namun pada masa ini, pembuatan alat-alat serpih-bilah jika dilihat dari bentuknya menunjukkan cara pembuatan yang lebih maju. Hal ini dikarenakan bentuk alat serpih bilah yang semakin beragam coraknya dan fungsinya. Kadang –kadang bentuknya kecil dan melalui teknik pemangkasan yang rumit, seperti alat-alat mikrolit yang memiliki bentuk khas geometric (Soejono, 1984:139).
Pengerjaannya ada yang sudah mengalami pemangkasan sekunder. Pemangkasan sekunder adalah pengerjaan serpih setelah dilepaskan dari batu intinya. Biasanya teknik ini lebih menitik beratkan pada pemunculan bentuk alatnya. Bahan batu yang digunakan untuk membuat alat ini adalah kalsedon, batu gamping, andesit, dan sebagainya. Tradisi serpih-bilah ini terutama berlangsung di kehidupan gua yang ada di Sulawesi Tenggara dan pulau-pulau Nusa Tenggara Timur. Beberapa unsur alat serpih-bilah ada yang dikembangkan lebih lanjut pada tingkat kemudian yang lebih modern lagi. Tradisi serpih-bilah di masa yang akan datang berbentuk mata panah bersayap atau bergerigi dan serpih-bilah yang khusus dibuat dari batu obsidian.
Tradisi serpih-bilah berkembang di beberapa daerah di Asia Tenggara. Di Indonesia tradisi ini sebagian besar ditemukan di Sulawesi Selatan (Heekeren, 1972:106-125), yang sebagian pada masa tidak berselang lama didiami oleh suku Toala. Penyelidikan untuk alat serpih-bilah ini berhasil dibuka jalannya oleh dua peneliti dari Swiss, Fritz dan Paul Sarasin.
Alat Tulang
Alat tulang di daerah Asia Tenggara banyak ditemukan di Tonkin. Namun pada penemuannya banyak bercampur dengan kapak genggam Sumatera yang agak kasar. Alat-alat tulang juga dapat ditemukan juga di gua-gua yang terdapat di daerah Hoabinh. Sayangnya jika di Hoabinh, maka populasi alat-alat tulang ini masih lebih sedikit daripada kapak genggam Sumatera.
Selain itu, alat-alat tulang juga terdapat di bukit kerang di Da But, Anam Utara. Alat-alat di daerah ini menunjukkan persamaan dengan alat-alat tulang yang ditemukan di Sampung, Ponorogo dan bukan merupakan bagian dari alat-alat yang ditemukan di Tonkin. Penemuannya pun masih disertai dengan penemuan kapak genggam Sumatera.
Dari penemuan di atas, Van Stein Callenfels berpendapat bahwa tradisi alat-alat tulang yang berasal dari Vietnam Selatan dan Annam mendesak pemakaian alat-alat yang terbuat dari batu (Heekeren, 1772:125-126). Pada akhirnya, tradisi alat-alat tulang tersebut akan mencapai daerah Jawa Timur dan berkembang lebih lanjut di gua-gua yang ada. Pembuatannya dengan cara pembelahan tulang sesuai dengan ukuran alat yang diinginkan, kemudian dikeraskan dengan api dan digosok-gosok sehingga menghasilkan alat yang keras dan tajam.
Rabu, 25 April 2012
teori persebaran manusia purba ke Indonesia
Berikut ini adalah beberapa pendapat dari
para ahli yang menyatakan mengenai asal-usul persebaran manusia purba di
Indonesia:
·
Proto Melayu (Melayu Tua), merupakan orang
Austronesia yang pertamakali datang ke Indonesia sekitar tahun 1500 SM melalui
jalur Barat (Malaysia-Sumatera) dan jalur Timur (Philipina-Sulawesi) dengan membawa
kebudayaan kapak persegi (Jalur Barat) dan kapak lonjong (jalur Timur) Bangsa
Indonesia yang termasuk keturunan Proto Melayu adalah: Suku Dayak, Toraja, Batak,
Papua dsb.
·
Deutro Melayu (Melayu Muda), masuk ke wilyah
Indonesia sekitar 400-300 SM melalui
jalur Barat, dengan membawa kebudayaan Logam, seperti : Nekara (Moko), kapak
corong, juga mengembangkan kebudayaan Megalitik. Bangsa Indonesia yang termasuk
keturunan Deutro Melayu adalah : Jawa, Melayu dan Bugis.
manusia-manusia purba di Indonesia
1.
Meganthropus
paleojavanicus
Fosil ini ditemukan oleh von
Koenigswald pada tahun 1941 di Sangiran. Diberi nama Meganthropus Palejavanicus,
karena dilihat dari struktur tulangnya, manusia ini memiliki ukuran yang sangat
besar sehingga ia disebut Meganthropus. Sedangkan nama Paleojavanicus diambil
berdasarkan lokasi penemuannya. Sehingga Meganthropus Paleojavanicus berarti
manusia besar tua yang berasal dari Jawa. Hidup sekitar 20-15 juta tahun yang
lalu. Berikut ini adalah ciri-ciri Meganthropus Paleojavanicus:
2.
Pithecanthropus
Erectus
Pithecanthropus berarti manusia
kera, sedangkan Erectus berarti berjalan tegak. Sehingga Pithecanthropus Erectus
berarti manusia kera yang bisa berjalan tegak. Fosil manusia ini ditemukan
tahun 1891 di Trinil. Fosilnya pertama kali ditemukan oleh seorang penggali
marmer yang bernama van Reitschotten dan kemudian diteliti olrh Eugene Dubois.
Ada dua jenis pithecanthropus yakni, pithecanthropus mojokertensis dan
soloensis. Berikut ini adalah ciri-ciri pithecanthropus erectus:
3.
Homo
sapiens
Homo sapiens diperkirakan merupakan
manusia purba yang bentuk fisiknya hampir sama dengan manusia modern saat ini.
Manusia purba inilah yang menjadi nenek moyang bangsa manusia. Pertama kali
ditemukan di daerah Wajak oleh van Ritschotten dan diteliti oleh Eugene Dubois.
Berikut ini adalah ciri-ciri manusia homo sapiens:
Terdapat dua jenis manusia homo
sapiens yang dikenal di Indonesia yakni, homo wajakkensis dan homo soloensis.
Langganan:
Postingan (Atom)





