Pages

Subscribe:

Shopping Online

Minggu, 26 Januari 2014

Daun yang Gugur



Aku hanya daun
Yang selalu gugur
Saat angin menyapaku
Dan angin itu adalah dirimu
Aku hanya daun
Yang selalu gugur
Tapi aku tak pernah mampu
Membencimu yang menggugurkanku
Aku hanya daun
Yang selalu gugur
Sesering kau menghampiriku
Sesering itu pula aku hancur
Aku hanya daun
Yang selalu gugur
Dan aku berharap pada Tuhanku
Suatu hari akan ada hujan
Yang memberiku dunia baru
Dengan begitu,
Aku bisa melupakan
Sakitnya tergugurkan olehmu.

Roudhotul Jannah, 17 Januari 2014 20:38

Kamis, 23 Mei 2013

Ketika Allah Menyentuh Hatiku dengan Cara yang Kusuka


Lagi, Allah selalu tahu bagaimana caranya menyentuh hatiku. Hari ini aku dibangunkan pukul 01.50 WIB karena aku belum shalat Isya’ (yang ini bukan untuk ditiru).  Setelah 10 menit berada di kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu, aku bersiap-siap untuk menunaikan shalat. Tapi, ‘krucukkk....krucukkkk’ aku baru ingat kalau seharian kemarin aku hanya sekali makan nasi. ‘Pantas saja jam segini sudah lapar!’  batinku. Kubuat segelas susu coklat dingin (karena Sidoarjo itu panasnya Masya Allah) dan mengambil beberapa cemilan di kulkas. Setelah mengisi perut sebentar, aku pun shalat.
Usai shalat, ternyata kantukku sudah hilang. Kunyalakan televisi yang hanya kulihat ketika aku ada di rumah dan ketika ingin melihat saja. Kebiasaan hidup tanpa televisi di kontrakan ketika sedang aktif kuliah di Malang membuatku tidak lagi suka menonton televisi.  Angka-angka channel di remote kupencet bergantian. Tidak ada yang menarik. Sebagian besar yang ditayangkan berhubungan dengan dunia-dunia malam yang liar. Tapi eiitss tanganku terhenti ketika aku sampai di stasiun T**** 7. Ada sebuah film yang diputar. ‘Film apaan nih?’ waktu itu aku tidak sempat melihat judul yang ditayangkan di sudut layar. Ditambah aku juga tidak tahu apakah film ini baru saja dimulai penayangannya atau sudah hampir kelar. Namanya juga nonton dadakan.

Minggu, 03 Maret 2013

kumpulan status facebook-ku

Dinar Rizky
August 7 via mobile
*kenapa belum pakai jilbab?
#mau jilbabin hati dulu,baru jilbabi fisik.
Cinta, jilbabi fisikmu dan perbaiki akhlakmu secara bersamaan dan perlahan-lahan. Tidak ada yg lebih diutamakan di antara keduanya. Keduanya itu wajib dan tak bisa ditunda.
#AyoPakeJilbabSyar'i


Dinar Rizky
August 7 via mobile
*kenapa belum berjilbab?
#takut dibilang fanatik dan dikira teroris.
Lebih takut mana dengan hadits yg mengatakan bahwa "perempuan yang menanggalkan/tidak berjilbab tidak akan mencium baunya surga"...baunya saja tidak, apalagi surganya? Kalau begitu tempatnya dimana?
#AyoPakeJilbabSyar'i
Dinar Rizky
August 6 via mobile
"orang-orang yang benar-benar berpegang pada ajaran Muhammad SAW di akhir zaman akan menjadi orang-orang terasing di dunia"
bagi saudara-saudaraku yg sudah mengambil jalan ini, pernahkah kalian merasa menyesal dalam keterasingan itu? :(

untuk saudara muslim di dunia...


Pelayaran Nusantara dan Bangsa Asing Abad XIX

A. Nusantara Sebagai Pelabuan Penting pada Abad XIX
Semenjak zaman Indonesia klasik makassar sangat berperan penting dalam dunia perdagangan dan pelayaran. Perdagangan di Makassar di bagi menjadi dua periode. Periode pertama, awal pertumbuhan hingga 1667 dimana Makassar dibawah kekuasan kerajaan Gowa dan Tallo. Sejak abad ke-16 para pedagang muslim telah berdatangan ke kerajaan Gowa dan Tallo. Kerajan ini dikenal sebagai Bandar niaga yang baik teduh dan aman dari gelombang besar. Hal yang memperkuat kerajan ini sebagai Bandar niaga ialah dengan penghasil kekayaan alamnya berupa rempa-rempa dan beras ini lah yang membuat kerajaan ini tetap disinggahi para pedagang asing. Rempah-rempah pada waktu itu menjadi barang dagang utama dalam perdagangan maritim. Selain itu kebesan di laut menjadi pedoman politik kerajaan ini. Periode kedua, yakni di masa kekuasaan VOC antara tahun 1667-1799. Makassar pada masa ini fungsi utamanya sebagai pos pengamanan VOC untuk mencegah pedagang lain memasuki Maluku. Namun kejayaan makassar tidak selamanya berjaya.

Majapahit dan Demak Sebagai Negara Maritim

B. Kerajaan Majapahit di Masa Perdagangan Maritim
Sebelum adanya peran dari Mahapati Gadjha Mada yang menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara dibawah kekuasaan kerajaan Majapahit, kerajaan-kerajaan di Nusantara belum menyadari bahwa mereka merupakan satu Bangsa.
Menurut Anshoriy dan Arbaningsih, (2008:8-9) bahwa Mahapati Gadjha Mada berwawasan maritime (merkantilisme, navalisme, dan teritori). Apa yang dilakukan orang besar tersebut merupakan kebijakan maritim Kerajaan Majapahit yang benar dalam wilayah perairan Nusantara. Kerajaan Majapahit menjadi kerajaan maritim yang memiliki sejumlah negeri. Baik di Sumatra maupun Kalimantan. Wawasan maritim tentusaja memiliki implikasi pada strategi dan kebijakan kerajaan tersebut dalam mengelolah dan memanfaatkan laut, terutama dalam masalah trasportasi dan pertahanan. Sebagai pusat kerajaan, ia harus mampu mengkoordinasi negeri asalnya serta melindungi diri dari serangan musuh. Sistem perhubungan laut Majapahit konon diambil alih oleh Pemerintah Hindia-Belanda ketika berkuasa di wilayah Nusantara. Melihat kondisi “maritim” Majapahit serta potensi laut yang luar biasa, selain sebagai sarana perhubungan, Belanda (VOC) mengalihkan secara total orientasi masyarakat Nusantara menjadi masyarakat darat dan dipekerjakan sebagai tenaga paksa atau kerja rodi. Dengan demikian semangat kebaharian masyarakat Nusantara padam karena transformasi sosio-ekonomi dan budaya yang sengaja dilakukan Belanda demi kepentingan ekonominya. Dengan langka-langka yang dilakukan terhadap penuduk asli Nusantara, Pemerintah Hindia-Belanda menjalankan visi kemaritimannya, yaitu dengan menguasai wilayah perairan Nusantara di kawasan utara: Ternate dan Tidore; kawasan tengah: Makasar; kawasan selatan Batavia dan sepanjang pantai utara Pulau Jawa.