Pages

Subscribe:

Shopping Online

Kamis, 23 Mei 2013

Ketika Allah Menyentuh Hatiku dengan Cara yang Kusuka


Lagi, Allah selalu tahu bagaimana caranya menyentuh hatiku. Hari ini aku dibangunkan pukul 01.50 WIB karena aku belum shalat Isya’ (yang ini bukan untuk ditiru).  Setelah 10 menit berada di kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu, aku bersiap-siap untuk menunaikan shalat. Tapi, ‘krucukkk....krucukkkk’ aku baru ingat kalau seharian kemarin aku hanya sekali makan nasi. ‘Pantas saja jam segini sudah lapar!’  batinku. Kubuat segelas susu coklat dingin (karena Sidoarjo itu panasnya Masya Allah) dan mengambil beberapa cemilan di kulkas. Setelah mengisi perut sebentar, aku pun shalat.
Usai shalat, ternyata kantukku sudah hilang. Kunyalakan televisi yang hanya kulihat ketika aku ada di rumah dan ketika ingin melihat saja. Kebiasaan hidup tanpa televisi di kontrakan ketika sedang aktif kuliah di Malang membuatku tidak lagi suka menonton televisi.  Angka-angka channel di remote kupencet bergantian. Tidak ada yang menarik. Sebagian besar yang ditayangkan berhubungan dengan dunia-dunia malam yang liar. Tapi eiitss tanganku terhenti ketika aku sampai di stasiun T**** 7. Ada sebuah film yang diputar. ‘Film apaan nih?’ waktu itu aku tidak sempat melihat judul yang ditayangkan di sudut layar. Ditambah aku juga tidak tahu apakah film ini baru saja dimulai penayangannya atau sudah hampir kelar. Namanya juga nonton dadakan.
Awalnya, ada adegan sepasang orang tua muda (salah satu pemerannya yang berhasil kuidentifikasi adalah si ayah yang ternyata Branden Fresher, salah satu aktor favoritku sewaktu SMA) yang menyuapkan botol susu ke mulut dua anaknya yang baru lahir. Ada yang aneh dengan anak itu. Kembar siam. Sang orang tua meminta kepada dokter yang ada di hadapannya untuk menolong mereka agar memisahkan dua bayi tersebut. Mereka berharap agar kedua anaknya dapat hidup normal seperti anak-anak lain pada umumnya.
Adegan tersebut berpindah menceritakan seorang ibu berkulit hitam bernama Mrs. Curson yang mempunyai dua orang anak yakni, Curtis dan Benjamin. Ibu ini seorang buta huruf yang hanya sempat bersekolah sampai kelas 3 SD kemudian menikah pada usia 13 tahun. Ketika Ben atau Benjamin baru berusia 8 tahun, ia bercerai dengan suaminya karena suaminya memiliki istri dan anak sebelum menikah dengannya serta terlibat perdagangan narkoba. Ia mengasuh Curtis dan Ben sendirian.
Curtis dan Ben menjadi anak yang tidak beruntung. Mereka menjadi siswa terbodoh di sekolahnya. Ditambah lagi Ben sangat tidak bisa mengontrol emosinya yang menyebabkan ia melakukan hal-hal tak terduga ketika sedang marah. Tapi Mrs. Curson tidak ingin anaknya memiliki nasib yang sama dengannya. Ia selalu mengatakan pada kedua anaknya ‘Kalian adalah anak yang cerdas. Hanya saja kalian tidak menggunakan kecerdasan kalian.’ ‘ Berimajinasilah untuk menyelesaikan suatu permasalahan.’ ‘Menghafalkan tabel perkalian memang tidak mudah, tapi kalian pasti bisa jika kalian bekerja keras.’
Mrs. Curson yang menjadi pembantu dan babysitter di rumah seorang professor terheran-heran tatkala melihat rumah majikannya dipenuhi dengan buku-buku. Ia bertanya apakah majikannya membaca seluruh bukunya. Majikannya bilang hampir seluruh buku itu sudah ia baca. Ketika ia pulang dan melihat dua anaknya sedang asyik menyimak acara televisi, ia mematikan televisi tersebut. Ia katakan pada dua anaknya ‘Mulai sekarang, pilihlah 2 tontonan televisi untuk setiap minggunya. Itupun kalian boleh menontonnya jika selesai mengerjakan PR. Gunakan waktu luang kalian untuk membaca buku. Pergilah ke perpustakaan dan bacalah 2 judul buku. Buat laporan tertulis mengenai bacaan kalian dan berikan padaku.’ Begitulah cara Mrs. Curson menumbuhkan minat baca pada kedua anaknya. Ada satu perkataan dari Mrs. Curson yang sangat menarik ketika menyuruh anaknya mengurangi jam nonton tv ‘Kenapa kalian cuma menonton televisi? Jadilah orang besar yang ditonton orang banyak melalui televisi!’
Sejak saat itu, Curtis dan Ben sangat tergila-gila pada buku dan membaca. Kemampuan akademik mereka mulai meningkat dari yang tadinya sebagai anak terbodoh di sekolah menjadi anak terpintar. Puncaknya ketika Ben berhasil menjelaskan mengenai asal usul terbentuknya batuan obsidian karena sebelumnya ia secara tidak sengaja menemukan sebuah batuan obsidian hitam dan kemudian mencari buku yang membahas mengenai batuan di perpustakaan tempatnya membaca. Ben menerima penghargaan sebagai Siswa Terbaik di sekolahnya. Salah satu guru di sekolahnya tidak menyukainya dan menghinanya secara rasis di depan seluruh hadirin setelah Ben menerima penghargaan. Mrs. Curson memindahkan sekolah putranya ke sekolah lain.
Ben melanjutkan sekolahnya sampai di pendidikan kedokteran di Universitas Yale. Ia tertekan karena tak bisa memahami matakuliah kimia. Ia belajar kimia sampai tertidur dan bermimpi sedang berada di ruang kelas. Dosennya sedang menulis reaksi kimia di papan. Ketika ia maju menghadap papan dan mencoba memahami reaksi tersebut melalui buku, ia melihat ada ibunya yang berkata ‘Kamu tidak membutuhkan buku. Bukunya ada pada dirimu.’ Ajaibnya, salah satu soal ujiannya pada keesokan hari adalah reaksi kimia yang ada dalam mimpinya. Ben lulus dengan nilai A. Ketika sedang mencoba test menjadi dokter magang di John Hopkins Hospital, ia mengatakan bahwa ‘Bagiku, otak adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Ada banyak keajaiban di dalamnya.’
Ben pernah melakukan operasi pada seorang pasien yang mengalami luka akibat terpukul tongkat baseball. Setelah operasi, dokter atasannya memarahinya karena melakukan operasi tanpa persetujuan dan pengawasan supervisor. Tindakannya bisa membahayakan reputasi rumah sakit dan karirnya sendiri. Tapi setelah dimarahi, Ben mendapatkan pujian bahwa ia telah melakukan tindakan terbaik dengan melakukan operasi tanpa menunggu kedatangan dokter senior meskipun beresiko kehilangan karirnya. Sebab jika terlambat hal itu bisa menyebabkan kematian.
Ben bahkan pernah mengoperasi seorang gadis kecil yang mengalami kejang-kejang sejak usianya 18 bulan. Ia membuang bagian kiri otak si gadis yang menyebabkannya sering kejang-kejang. Gadis itu akhirnya selamat dan tidak lagi mengalami kejang. Ia bisa bicara dan bergerak dengan normal meskipun butuh waktu yang agak lama dan pertaruhan nyawa jika operasinya tidak sukses. Setelah melakukan operasi pada gadis itu, Ben menjadi dokter bedah syaraf anak terbaik
Sebelum mengoperasi dua anak kembar siam, Ben kehilangan seorang anaknya yang meninggal dunia ketika baru saja lahir. ia gamang dan takut tak bisa menyelamatkan anak kembar siam itu. Tapi ibunya berkata ‘Jika kamu berhasil mengoperasi dua anak kembar siam itu, mungkin itu tidak dapat menghidupkan anakmu kembali. Tapi setidaknya kau telah berbuat baik untuk orang lain.’ Ben melakukan operasi yang menuntutnya bergerak cepat. Ia harus mengoperasi dalam keadaan jantung bayi yang berhenti berdetak untuk menghindarkan pendarahan pada otak anak ketika dipisahkan. Penghentian jantung hanya boleh dilakukan 1 jam dengan tujuan pompa darah ke otak berhenti dan memberi kesempatan untuk membedahnya. Ben mendapatkan ide tersebut ketika melihat ibunya mematikan keran air. Aliran air bisa dihentikan jika pompanya dimatikan. Suatu pemikiran sederhana namun ilmiah. Operasi si kembar selama 24 jam membuahkan hasil. Mereka berdua selamat. Ben menjadi dokter bedah syaraf anak terbaik yang berhasil mengoperasi 5 pasang anak kembar siam dan memberikan beasiswa untuk anak-anak pintar yang kurang beruntung. Kisahnya ditulis dalam suatu autobiografi berjudul GIFTED HANDS. Dan difilmkan oleh Sony Picture pada tahun 2009.
Nilai universal yang diperoleh dari film ini adalah:
1.      Tidak ada anak bodoh. Semua anak terlahir dengan kemampuan dan kecerdasannya masing-masing. Jika ada anak yang terkesan bodoh, itu karena ia belum bekerja keras dan menggunakan potensinya dengan maksimal.
2.      Membaca dan ilmu pengetahuan adalah kekuatan kita. Bukankah ayat pertama yang turun berbunyi: Iqro’?
3.      Niat, aksi, doa. Harus ada niat baik yang dibuktikan dengan aksi nyata dan diiringi dengan doa pada Allah Subhanahu Wata’ala. Tanpa itu semua, harapan dan mimpi kita tidak akan terwujud.
4.      Jadilah jujur. Ben Curson lebih baik mendapat nilai F (fail) daripada harus mencontek. Jadilah jujur, maka keberhasilan akan menghampirimu.
5.      Berbuat baiklah pada orang lain tanpa peduli balasannya dan bagaimanapun kondisi kita. Ini adalah manifestasi ikhlas yang sesungguhnya.
6.      Sertakan Allah dan jadikan Ia sebagai motivasi bergerak.
Allah tahu jika aku seorang pecinta film dan hal-hal yang bersifat visual. Maka Allah mengakhiri pencarianku pada ikhlas yang sesungguhnya setelah 6 bulan mencari melalui film ini. Mungkin ini bukan film seorang muslim, tapi nilai-nilai di dalamnya seharusnya ada pada seorang muslim. 6 nilai universal tadi juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad Sallahu ‘Alaihi Wasallam melalui riwayat hidupnya. Hari ini aku tersungkur menangis. Menyadari bahwa di sepanjang hidup yang telah kulalui, Allah tak hendak membuatku sebagai manusia biasa, tapi Ia ingin aku menjadi manusia luar biasa. Bahkan lebih luar biasa dari seorang Benjamin Curson. Kenapa? Karena aku muslim yang bertauladan Nabi, karena aku hidup dengan fasilitas yang belum ada saat Ben menjadi dokter terbaik, dan karena Allah menjadikanku sebagai anak yang terlahir cerdas. J Alhamdulillah.
Sidoarjo, 24 Mei 2013
6.16 WIB

2 komentar:

  1. nice share.....setuju banget "tidak ada anak yg bodoh"

    BalasHapus
  2. sama seperti kata profesor yohanes surya.tidak ada anak bodoh, yang ada adalah anak-anak yang kurang beruntung karena tidak mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik.

    BalasHapus