Pages

Subscribe:

Shopping Online

Rabu, 17 Juni 2015

DISCONNECT : KETIKA TEKNOLOGI MENJADI BUMERANG GENERASI



Generasi gadget. Generasi 2013 adalah generasi gadget. Setuju? Mungkin ada beberapa yang setuju dan ada beberapa yang menolak penyebutan ini. Namun cukuplah bahwa seluruhnya akan sepakat mengenai efek negatif gadget yang belum seharusnya dipercayakan secara penuh pada anak yang belum memiliki filter kuat terhadap berbagai arus informasi sekaligus masih dalam proses membangun karakter diri. Tidak banyak orang tua dan anggota keluarga yang sadar bahwa memberi gadget tak semudah memberi susu pada anak bayi atau memberi permen pada balita yang rewel dan terus menangis. Sehingga mereka dengan begitu mudahnya memberikan gadget pada anak tanpa pengawasan yang berarti. Fenomena seperti ini terjadi hampir di seluruh negara, terutama di negara yang kesadaran atas pendidikan dari sisi emosional dan spiritual masih relatif minim. Salah satu negara yang telah menangkap gelagat fenomena tersebut adalah USA. Amerika. Negara dengan tingkat pendidikan tinggi namun pengelolaan emosional dan spiritualnya masih rendah dibuktikan dengan tingginya tingkat kriminalitas dan bunuh diri yang terjadi di negara tersebut. Kesadaran itulah yang kemudian mendorong beberapa sineas untuk memfilmkannya dengan judul DISCONNECT.

Film yang didirekturi oleh Henry-Alex Rubin ini memiliki 3 konflik yang menjadi benang merah. Konflik pertama adalah cyber prostitution yang digeluti oleh Kyle,dkk dibawah asuhan seorang papi bernama Harvey. Konflik kedua adalah cyber bullying yang dilakukan Jason dan Frye kepada Ben Boyd, teman sekelas mereka yang pendiam. Konflik terakhir adalah cyber crime yang menjadikan keluarga Hull sebagai korban hutang sebesar hampir 8 juta dollar. Ada hubungan antar tokoh dan ada benang merah yang menjadikan setiap konflik itu ada. Dunia maya. Hubungan lewat facebook dan jejaring sosial lain yang bermaksud memperkecil jarak antar manusia ternyata justru menjadi salah satu faktor munculnya kejahatan-kejahatan tersebut.

Nina, seorang reporter di CNN mencoba menelusuri mengenai prostitusi maya yang banyak berkembang di USA (sepertinya hal yang sama juga terjadi di Indonesia jika kita mau jujur). Ia mengumpulkan data-data mengenai itu dari Kyle, salah satu gigolo maya. Nina melakukan kontak maya bahkan sampai bertemu dengan Kyle untuk menanyakan beberapa hal terkait profesi yang dilakukan Kyle sehingga akhirnya pemuda tersebut setuju untuk diwawancarai langsung untuk mengungkap bisnis tersebut dengan jaminan keamanan dan penyamaran identitas. Rekaman wawancara tersebut kemudian disiarkan di seluruh kota. Siaran tersebut menyebabkan FBI gerah dan ingin menyelamatkan anak-anak asuhan si papi.

Di lain sisi ada Jason dan Ben yang berasal dari dua keluarga berbeda namun sama-sama kurang mendapatkan perhatian dari keluarganya. Ayah Jason adalah seorang mantan polisi yang memutuskan untuk berhenti sejak istrinya meninggal agar ia bisa mengurus anak semata wayangnya. Ayah Jason bersikap sangat keras padanya. Sedangkan Ben adalah anak dari seorang pengacara sukses yang tidak mendapatkan waktu dan perhatian baik dari sang ayah, ibu, dan kakak. Yang membuat Ben berbeda dari kakaknya dan Jason adalah Ben tidak pernah mempunyai teman lebih dari 1 orang atau bahkan seringkali tak punya sama sekali. Karena itu ia mendapatkan cap freak. Ben menyebarkan ‘foto pribadi’ Jason yang membuat pemuda pendiam itu stress dan melakukan upaya bunuh diri. Upaya bunuh diri tersebut membuatnya koma di rumah sakit.
Keluarga Hull mengalami penipuan yang menyebabkan mereka terjerat hutang sebesar 8 juta dollar karena si suami dan istri mengalami hubungan yang tidak harmonis. Sehingga si istri mencari ‘tempat’ lain untuk mengobati rasa sepinya. Orang ketiga tersebutlah yang menyebabkan keluarga Hull ditipu dan diperas habis-habisan hingga mencapai 8 juta dollar.

Beberapa pelajaran yang bisa diambil dari film tersebut adalah:
1.      Seingin apapun anak untuk memiliki gadget, jangan berikan gadget tanpa pengawasan pada mereka. Karena kita tidak pernah bisa menduga seberapa luas akses yang akan mereka dapatkan.
2.      Buatlah gadget menjadi barang yang tidak istimewa dengan mendorong anak untuk selalu berkomunikasi secara langsung (saat memungkinkan), bukan melalui dunia maya baik SMS, socmed, dsb.
3.      Berilah usaha pendidikan moral dan seks pada anak (sebab konten yang banyak beredar dan membahayakan adalah seputar dunia seks).
4.      Jangan mengizinkan anak untuk membawa gadget ke sekolah karena pengawasan dari guru tentu tidak seintensif pengawasan orang tua dan agar anak tetap bersosialisasi dengan lingkungannya.
5.      Berikan batasan penggunaan gadget pada anak. Misalnya: penggunaan gadget hanya diizinkan sampai pukul 9.00 malam (setelah itu gadget dikembalikan pada orang tua), password gadget adalah password dari orang tua, dan konten audiovisual (teks sms, foto, video, rekaman, mp3, dll) selalu diketahui oleh orang tua.
6.      Berikan quota i-net dalam jumlah kecil untuk memperkecil waktu berselancarnya. Jika membutuhkan quota tambahan i-net harus langsung meminta pada orang tua.
7.      Berikan gadget tidak dengan cuma-cuma. Semisal dengan memberikan persyaratan berupa: hafal 1 juz Al Qur’an, membaca 1 buku per minggu, dsb. Sehingga anak menyadari bahwa gadgetnya adalah hadiah dari kegiatan positifnya dan berusaha menjaga diri dan gadgetnya dari noda negatif.
8.      Bangunlah komunikasi terbaik dengan anak-anak sebab komunikasi adalah kunci keterbukaan anak atas segala hal kepada orang tuanya.
9.      Saling terbukalah dengan pasangan, bahkan jika itu hanya sekedar sms. Dengan harapan hal tersebut bisa membuat pasangan saling percaya dan membatasi interaksi dengan lawan jenis yang bukan mahram.
Malang, 27 Mei 2014
19.46 WIB

0 komentar:

Posting Komentar