Pages

Subscribe:

Shopping Online

Selasa, 05 Agustus 2014

[RECALL]: CADAR... SEBUAH MEMOAR KECIL SOAL SUNNAH YANG TERASINGKAN



Harusnya tak perlu kuingat-ingat lagi. Begitukah? Tapi kenyataannya aku masih ingat. Ingat betul bagaimana (sedikit) ketidak adilan itu menghampiriku. Sejak aku memutuskan untuk berjilbab lebar dan besar, aku benar-benar ingin mengamalkan segala hal yang diperintahkan Allah dan RasulNya kepadaku, pada para muslimah. Termasuk soal cadar atau niqob. Jujur saja dulunya kupikir cadar itu perilaku beragama yang berlebihan. Bukan sunnah melainkan segerombolan orang lebay dalam menutup aurat. Semoga Allah mengampuni kebodohanku. Tapi sejak aku mengenal dakwah ahlus sunnah, mengenal mbak-mbak kos dengan jilbab lebarnya dan keinginan bercadarnya, dan jama’ah yang mengagumkan dalam menggaungkan sunnah, aku jadi tahu bahwa cadar adalah sebuah sunnah. Sunnah yang terlupakan. Bahkan oleh mereka yang mengaku penganut mahzab Imam Syafi’i (mohon maaf jika sedikit kasar).
Berbekal sedikit ilmu dan keberanian, pada masa perkuliahan semester 5 aku mencoba memakai cadar. Dengan harapan dibalas pahala, ridha, dan surgaNya. Bukan hal mudah karena orang tua pun sebenarnya sedikit keberatan dengan cadar tapi saya yakin mereka selalu menghormati keputusan saya. Hari pertama dan kedua tidak terlalu ada kasak kusuk. Hari ketiga ada teman yang menegur: pake cadar apa pake masker sihh?”.  Spontan aku menangis mendengarnya. Memang waktu itu cadarku akan kulepas saat aku mencapai gedung perkuliahan. Bukan apa-apa. Hanya saja fakultas tempatku berkuliah bukanlah fakultas yang dipenuhi oleh orang-orang agamis. Sehingga hal yang berkaitan dengan keagamaan selalu dianggap sebagai sebuah ‘tindak kejahatan’ secara aklamasi oleh sebagian besar orang. Sehingga ketika aku pernah bertanya soal hukum bercadar pada mbak-mbak di harakah, mereka menjelaskan beberapa anjuran dari ulama’. Termasuk melepas cadar di tempat yang memang belum diterima (sebab kemantapan hati untuk bercadar sudah besar). Hari keempat, seorang sahabat bertanya “teman-teman mau membicarakan secara terbuka soal cadarmu. Bolehkah? Kalau nggak boleh ya nggak usah gapapa kok.”. kuiyakan sebagai wujud tanggung jawab atas keputusanku.
Jika saya tak salah ingat, hari itu adalah hari kamis. Hari kelimaku bercadar. Teman-teman duduk melingkar di kelas. Aku berada di antara mereka. Satu per satu mulai bertanya tentang keputusanku memakai jilbab. Pada awalnya masih kujawab dengan setenang mungkin. Hingga beberapa pertanyaan yang kuingat begitu menyakitkan berhasil meruntuhkan segala ketegaranku.
“ngaji dimana sih kamu kok pakai cadar segala?”
“kata ustadzku, cadar itu cuma budaya orang arab.”
“bukannya katamu semakin panjang jilbabnya harus semakin baik akhlaqnya? Akhlaqmu kan belum baik kenapa pake cadar segala?”
“eh, bukannya dulu kamu pernah deket sama si ‘ini’ ya? Katanya kalau pacaran itu dosa. Kamu gimana sih?”
“bukannya kamu dulu pernah ngingetin begini ya: ‘eh, *nama* s*sumu keliatan lho.’ Di depan banyak cowok ya?”
“kamu tuh kalo cadaran sekalian dong. Jangan dibuka tutup kaya masker gitu. Dosa tau! Kamu pernah nasihatin aku untuk pake jilbab kan? Kalo pake jilbab dibuka tutup kan dosa. Sama dong dengan cadar. Ya maaf aku nggak dendam kok soal nasihatmu waktu itu, tapi bayangin ya gimana perasaan ortumu kalo kamu dibilang berdosa sama orang lain hanya karena ga pake jilbab. oh iya, aku tuh disuruh dekan buat ngawasi gerak gerikmu lho. Kamu tak bilangin aja sebagai temenku. Oh iya kamu waktu itu pernah dibonceng cowok juga kan? Padahal ada temen cewek yang mau nganter tapi kamu tolak.”
Blaa.... blaa... blaa...
Kujawab satu per satu pertanyaan itu dengan mengemukakan dalil yang kuhafal. Satu per satu sambil menahan tangis. Perlu diklarifikasi bahwa aku dekat dengan seorang laki-laki di kelas saat aku belum memutuskan untuk hijrah dengan sebenar-benarnya. Aku juga tidak pernah mengingatkan seseorang dengan kata-kata yang langsung menunjuk pada organ wanita di depan teman laki-laki sekelasku, bahkan teman yang katanya kuingatkan seperti itu pun berkata bahwa aku tak pernah melakukannya. Aku memang pernah menasihati temanku sebut saja Mawar untuk berjilbab. Sekali saja. Dan sampai sekarang yang bersangkutan memang tidak berjilbab. Aku memang salah dalam memilih kata-kata karena saat itu aku belum belajar fiqh dakwah (bahkan hingga kini di tahun terakhir kuliah aku masih tertatih belajar fiqh dakwah). Namun aku ingat betul bahwa aku sudah meminta maaf dengan setulus-tulusnya. Bahkan rela melakukan apapun demi maafnya. Dan dia bilang sudah memaafkan. Suatu hari nanti ternyata aku tahu jawabannya kenapa Mawar begitu membenciku. Soal dibonceng, aku memang pernah dibonceng teman laki-laki saat sakit. Waktu itu aku mengalami pendarahan hebat. Teman perempuan yang katanya akan mengantar pun tak kunjung menampakkan batang hidungnya sehingga aku menerima tawaran diantar pulang seorang teman laki-laki dalam kondisi terpaksa. Sejak saat itu hingga kini aku masih berusaha mengembalikan kepercayaanku pada teman-temanku. Berusaha memaafkan dan melupakan. Sedikit demi sedikit, satu demi satu. Tapi kejadian itu menyisakan trauma mendalam di hatiku. Kondisi psikis dan fisikku langsung drop kala itu. Cadar pun tak lagi kukenakan. Demi menghindari kejadian yang sama. Mengenaskan bukan? Padahal aku kuliah di fakultas yang orang-orangnya mengagung-agungkan Hak Asasi Manusia dan kebebasan. Bukankah aku bebas mengambil pilihanku untuk menjadi seorang muslimah kaffah karena mereka mengakui HAM? Kenapa aku dipersoalkan? Aku juga ingat betul bahwa aku pernah mencegah dan menggagalkan upaya ‘sidang’ pada seorang teman di kelasku juga yang dianggap mencemarkan nama baik kelas karena sering gonta-ganti pacar dari kelas-kelas tetangga. Jika dia yang akan disidang itu disidang karena kesalahan, lalu dimana letak kesalahanku hingga aku benar-benar disidang? Begitulah pikiranku kala itu. Tapi kemudian aku sadar bahwa Allah ingin mengujiku. Seberapa kuat bertahan dengan cadarku. Belumlah dikatakan beriman seseorang apabila ia belum diuji (Al Ankabuut ayat 2).
Catatan ini kutulis bukan untuk menghakimi siapapun. Hanya untuk berbagi. Pada mereka-mereka saudara seimanku yang ingin menjalankan sunnah dengan sebaik-baiknya, jalankan saja. Jangan takut ocehan manusia. Kajilah fiqh dakwah sebaik-baiknya hingga bisa ber-negosiasi dengan orang-orang yang tidak setuju dengan sunnah (yang dianggap ekstrim) dengan cara sebaik-baiknya.  Jika belum mampu, tak apa ditunda dan silahkan berkonsultasi dengan ustadz-ustadzah yang dipercaya. Semoga selalu tegar di jalan dakwah, di jalan sunnah. Doakan agar aku pun pulih dari trauma dan cadar tak lagi hanya jadi sekedar barang gantungan.

                                                                                                Malang, 27 Mei 2014
                                                                                                16.46 WIB

0 komentar:

Posting Komentar